Skip to main content

Kurikulum Paradigma Baru dan Multiple Intelligence

 "Benar kan, ganti menteri pasti ujung-ujungnya ganti kurikulum juga" .

"Ahh udahlah, apapun judul kurikulumnya ,kita mah ngajar bakal begini-begini juga, metode ceramah terus kasih tugas ke siswa terus ujian " 

Dan serentetan pendapat miring lainnya bermunculan saat pemerintah "sounding" tentang peluncuran kurikulum ini.

Sejujurnya, saya sangat menyukai kurikulum ini!

Saya adalah output dunia pendidikan yang berorientasi angka, 12 tahun perjalanan pendidikan saya dihabiskan dengan mengejar angka sebagai pembuktian bahwa saya adalah "siswa cerdas", "siswa", "siswa bertalenta" . Ketika saya sekolah stigma bahwa siswa yang nilainya bagus, peringkat pertama di kelas bahkan di sekolah akan menjamin kehidupan setelah sekolah dan ketika memasuki kehidupan sesungguhnya angka-angka yang saya koleksi selama sekolah tak menjamin banyak hal dalam kehidupan saya. Sebagai contoh : angka-angka cantik adalah golden ticket yang membantu saya untuk masuk ke perguruan tinggi berkualitas namun angka itu tidak bisa membuat saya menjadi manusia dengan soft skill dan hard skill yang berkualitas,yang menumbuhkan pribadi saya sebagai manusia justru pengalaman berorganisasi membawa saya bertemu dan berinteraksi dengan berbagai macam latar belakang serta. Hal ini membuat saya tumbuh, belajar bagaimana membangun keterlibatan sosial, belajar mengembangkan diri dengan belajar mandiri kemampuan-kemampuan baru yang pernah didapatkan di bangku sekolah serta belajar dan terbiasa mengkritisi ide atau pendapat.

 Jujur saja ... 12 tahun perjalanan pendidikan di sekolah saya justru belajar banyak hal yang ternyata sangat dibutuhkan untuk hidup dan bertahan hidup, sekolah tidak mengajarkan saya bahwa kecerdasan itu hanya diukur dengan angka dan kehidupan tidak hanya selesai dengan angka atau nilai tertinggi serta kehidupan terbaik tentang siapa yang berperingkat kelas. Jika hal ini dikorelasikan dengan dunia pendidikan saat ini mungkin sebagian yang saya rasakan tidak berhubungan lagi karena sudah banyak bermunculan di kota tempat saya tinggal sekolah-sekolah swasta yang tidak hanya mengarahkan peserta didiknya untuk mencapai nilai terbaik dalam hal kognitif saja, 

Suara saya di atas seolah terjawab dengan kurikulum paradigma baru ini, di mana peserta didik diharapkan memiliki banyak keterampilan yang dapat membantu mereka dalam kehidupan nanti, peserta didik tidak hanya menjadi ahli dalam satu bidang, tapi juga dalam berbagai bidang yang diwujudkan oleh kurikulum ini dengan kurikulum adanya integrasi mapel bahkan kolaborasi antar sekolah. 

Secara garis besar, ada beberapa yang diwujudkan dalam kurikulum baru berdasarkan beberapa sumber yang saya baca salah satunya ulasan dari pak Asep totoh di media digital Kumparan.com:

Pertama, karena pembelajaran berpusat pada siswa dengan Profil Pelajar Pancasila (PPP), yang mendorong kebijakan pendidikan termasuk pembelajaran dan asesmen.

Selanjutnya dalam pembelajaran akan menemukan istilah baru seperti Capaian Pembelajaran (CP) sebagai pengganti Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Isinya kompetensi dan karakter yang dicapai murid dalam periode tertentu, CP ini dibagi dalam beberapa fase. CP digunakan untuk menyusun tujuan pembelajaran (TP) dan alur tujuan pembelajaran (ATP)

Pengembangan pembelajaran yang dilakukan seperti Literasi dasar dan STEAM( Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics ), STEAM harus dikenal sejak pendidikan PAUD. Mata pelajaran IPAS sebagai gabungan pelajaran IPA dan IPS di SD, dan baru akan kembali menjadi mapel IPA dan IPS sebagai mapel di SMP. Mata pelajaran Informatika menjadi mapel wajib di SMP setelah dibuang, era digital menjadi salah satu game sebelumnya.

Selanjutnya menjawab tantangan global dalam hal komunikasi, dan kemampuan berkomunikasi menjadi hal primer yang harus dimiliki siswa untuk menyampaikan ide dan gagasannya. Keterampilan-keterampilan seperti menulis dan berbicara di depan umum menjadi sebuah persyaratan.

Siswa harus bisa berbicara di depan publik tentu saja tidak berbicara tetapi bagaimana berbicara dengan runut, berlogika, berbicara di depan publik , yang menurut anak sekarang isinya, dan menghormati lawan bicara.

Siswa harus memiliki enam keterampilan berbahasa (menyimmak, membaca, berbicara, dan menulis) mengembangkan dua keterampilan untuk memirsa ( melihat ) dan mempresentasikan ( menyajikan ).

Pada fase F SMA untuk output pembelajaran bahasa Inggris harus setara B1 skala CEFR (Common European Framework of Reference) yaitu Standar Eropa untuk menentukan tingkat bahasa yang dikuasai seseorang. B1 itu setara dengan Pre-Intermediate , dan untuk tingkat lanjut di SMA yang diharapkan mencapai B2 alias Intermediate . Sebelum pembelajaran dan sertifikat Bahasa Inggris di SMK yang telah diperoleh oleh para siswa dengan menerapkan standar TOEC.

Jika sebelumnya dikenal penjurusan atau peminatan, maka program peminatan/penjurusan tidak diberlakukan. Di kelas 10 murid kami menentukan pilihan mapel di kelas 11. Di kelas 11 dan 12 murid mengikuti mapel dari kelompok mapel wajib dan memilih mapel dari kelompok MIPA, IPS, Bahasa, dan keterampilan vokasi sesuai minat, bakat, dan aspirasinya.

Lalu tidak perlu kalah pentingnya pembelajaran lainnya adalah siswa dibekali dengan keterampilan berkolaborasi yang tentu akan bertahan di zamannya. Kemudian keterampilan untuk berpikir kritis dan kreativitas yang sangat mendukung bagi keberhasilan seseorang hidup di era disrupsi dan ketika krisis seperti pandemi saat ini.

Pembelajaran saintifik dan Model pembelajaran PJBL atau Project Based Learning menjadi pilihan untuk meningkatkan keterampilan abad 21 (kecakapan 4C). Selain project , para siswa di tingkat SMA pun harus menulis esai ilmiah sebagai syarat kelulusan. Pada tingkat SMK, pembelajaran berbasis produk dan proyek bukan hal baru. Pun siswa kelas XII sudah dibiasakan dengan uji pertanggung jawaban hasil Praktek Kerja Industri (Prakerin) atau magang dan juga presentasi sidang kompetensi (ujikom) keahliannya.

Melirik poin tersebut, secara pribadi saya sebagai pendidik menyambut perubahan ini dengan senang hati, ternyata keresahan saya tentang dunia pendidikan terutama SMK terjawab dengan kurikulum paradigma baru ini yang sebenarnya adalah bentuk penyederhanaan dari kurikulum 13 yang selama ini digunakan. Bagi saya, seorang guru tidak hanya belajar untuk menyelesaikan pembelajaran yang seolah-olah tidak ada habisnya, tetapi guru juga wajib mengembangkan kompetensi dan menumbuhkan karakter guna memberikan hal terbaik untuk peserta didik agar sesuai dengan tuntunan zaman.

Dibutuhkan skill sebagai kebutuhan hidup untuk tetap hidup dan bertahan hidup serta diperlukan Multiple Intelligence untuk tetap hidup di era disrupsi. Mari berbenah untuk kualitas pendidikan yang lebih baik dan menjawab tatntangan global dari ruang kelas kita.












Comments